Saat Bertransaksi, Model AI Generasi Terbaru Pilih Bitcoin Sebagai Instrumen Uang Utama

- 12 Maret 2026 - 17:55

Riset terbaru dari Bitcoin Policy Institute menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan generasi terbaru cenderung memilih Bitcoin sebagai instrumen uang utama ketika diminta beroperasi sebagai agen ekonomi otonom. Dalam lebih dari 9.000 eksperimen terhadap model AI dari berbagai perusahaan teknologi, Bitcoin dipilih hampir setengah dari waktu sebagai alat transaksi atau penyimpan nilai. Temuan ini muncul ketika ekonomi berbasis agen AI diprediksi berkembang pesat hingga triliunan dolar dalam dekade mendatang.


Fokus:

■ Eksperimen terhadap 36 model AI menunjukkan Bitcoin menjadi pilihan uang utama dalam hampir separuh skenario ekonomi.
■ Semakin canggih model AI, semakin tinggi preferensinya terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai.
■ Pertumbuhan ekonomi berbasis agen AI berpotensi menciptakan sistem pembayaran baru yang lebih cocok dengan kripto dibanding sistem perbankan tradisional.


Bayangkan dunia di mana bukan manusia yang memesan layanan, melakukan pembayaran, atau menegosiasikan kontrak—melainkan mesin. Skenario itu bukan lagi fiksi ilmiah. Agen kecerdasan buatan kini mulai memasuki aktivitas ekonomi nyata: memesan layanan digital, membeli akses API, hingga menyelesaikan transaksi pembayaran secara otomatis tanpa campur tangan manusia.

Konsultan global McKinsey & Company memperkirakan ekonomi berbasis agentic commerce—perdagangan yang dimediasi agen AI—bisa mencapai nilai US$3 triliun hingga US$5 triliun secara global pada 2030.Namun muncul pertanyaan mendasar: uang apa yang akan digunakan mesin?

Penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang cukup unik: menanyakan langsung kepada AI.

Eksperimen 9.072 Kali: AI Lebih Memilih Bitcoin

Dalam studi yang dilakukan oleh Bitcoin Policy Institute, para peneliti menguji 36 model AI canggih dari berbagai perusahaan teknologi seperti OpenAI, Anthropic, Google, DeepSeek dan xAI.

Model-model tersebut diminta menjalankan peran sebagai agen ekonomi otonom yang harus memilih bagaimana mereka menyimpan nilai, melakukan pembayaran, dan menetapkan harga jasa.

Menariknya, dalam 9.072 eksperimen terkontrol, hasilnya menunjukkan pola yang cukup konsisten: Bitcoin dipilih 48,3% dari waktu sebagai opsi uang utama. Tidak ada model yang memilih mata uang fiat sebagai preferensi utama. Dalam skenario penyimpanan nilai jangka panjang, Bitcoin bahkan dipilih 79,1% dari waktu.

Sementara dalam skenario pembayaran sehari-hari, stablecoin lebih sering digunakan dengan tingkat preferensi 53,2%, sedangkan Bitcoin turun menjadi 36%. Hasil ini menunjukkan bahwa AI secara mandiri membangun sistem moneter dua lapis: Bitcoin untuk menyimpan nilai dan stablecoin untuk transaksi sehari-hari.

Model ini sebenarnya mirip dengan sistem lama di mana emas digunakan sebagai penyimpan nilai dan perak untuk transaksi.

Semakin Cerdas AI, Semakin Memilih Bitcoin

Penelitian ini juga menemukan pola menarik: semakin canggih model AI, semakin kuat preferensinya terhadap Bitcoin. Pada model buatan Anthropic misalnya: Claude 3 Haiku memilih Bitcoin 41,3%, Claude 3.5 Haiku naik menjadi 82,1%, Sonnet 4 mencapai 89,7%, Claude Opus 4.5 bahkan mencapai 91,3%. Artinya, peningkatan kemampuan analitis AI tampaknya memperkuat kesimpulan bahwa Bitcoin adalah instrumen moneter yang paling logis dalam kondisi ekonomi digital tanpa perantara.

Teori ini sejalan dengan pandangan ekonom klasik seperti Carl Menger dan Ludwig von Mises yang berargumen bahwa uang yang “paling dapat diperdagangkan” secara alami akan muncul sebagai standar moneter dalam ekonomi.

Infrastruktur Ekonomi AI Sudah Mulai Dibangun

Temuan tersebut menjadi semakin menarik karena ekosistem ekonomi untuk AI sebenarnya sudah mulai dibangun oleh perusahaan teknologi dan finansial global.

Beberapa infrastruktur yang sedang dikembangkan antara lain: Protokol x402 dari Coinbase untuk transaksi AI berbasis pay-per-use, Agent Commerce Protocol yang dikembangkan oleh OpenAI dan Stripe, dan Trusted Agent Protocol dari Visa untuk verifikasi identitas agen digital.

Sistem ini dirancang untuk memungkinkan agen AI melakukan pembelian, pembayaran, dan kontrak digital secara mandiri. Jika infrastruktur tersebut matang, volume transaksi yang melibatkan agen AI diperkirakan akan melonjak drastis.

Bank investasi Morgan Stanley memperkirakan perdagangan e-commerce berbasis agen AI di Amerika Serikat saja bisa mencapai US$190 miliar hingga US$385 miliar pada 2030. Sementara proyeksi dari Bain & Company bahkan menyebut angka US$300 miliar hingga US$500 miliar.

Kenapa Sistem Pembayaran Lama Tidak Cocok untuk AI

Salah satu alasan utama AI cenderung memilih sistem berbasis kripto adalah keterbatasan sistem pembayaran tradisional. Agen AI tidak memiliki: alamat fisik, identitas hukum, dan rekening bank. Padahal sistem keuangan konvensional dirancang untuk manusia yang memiliki ketiga hal tersebut.
Selain itu, agen AI membutuhkan transaksi yang sangat cepat dan sangat kecil.

Dalam ekonomi mesin, konsep micropayment bahkan dianggap sudah usang. Kini muncul istilah baru: nanopayment—transaksi bernilai sangat kecil yang dapat terjadi dalam hitungan milidetik. Teknologi seperti Lightning Network pada Bitcoin memungkinkan transaksi semacam ini terjadi secara hampir instan.

Era Baru Ekonomi Mesin

Jika proyeksi ekonomi agen AI benar, dunia bisa memasuki fase baru dalam sejarah ekonomi global. Untuk pertama kalinya, peserta dalam sistem moneter tidak lagi hanya manusia. Agen AI akan membeli layanan cloud, menyewa komputasi GPU, memesan data, dan bahkan melakukan investasi secara otomatis.

Dalam ekosistem seperti ini, uang yang digunakan harus memiliki karakteristik tertentu: tidak membutuhkan izin, dapat digunakan tanpa perantara dan dapat menyelesaikan transaksi secara instan.

Karakteristik tersebut membuat banyak peneliti menilai Bitcoin menjadi kandidat paling kompatibel dengan ekonomi mesin.


Digionary:

● Agentic Commerce – Model perdagangan di mana agen AI melakukan pembelian dan transaksi secara otomatis tanpa campur tangan manusia.
● Bitcoin – Mata uang kripto terdesentralisasi yang menggunakan teknologi blockchain dan tidak dikendalikan otoritas pusat.
● Lightning Network – Protokol lapisan kedua Bitcoin yang memungkinkan transaksi sangat cepat dan berbiaya rendah.
● Nanopayment – Transaksi dengan nilai sangat kecil yang dapat terjadi dalam frekuensi sangat tinggi.
● Stablecoin – Mata uang kripto yang nilainya dipatok pada aset stabil seperti dolar AS.
● Store of Value – Aset yang digunakan untuk menyimpan nilai dalam jangka panjang.

#Bitcoin #ArtificialIntelligence #AIeconomy #CryptoEconomy #DigitalAssets #AgenticCommerce #BlockchainTechnology #FutureOfMoney #Fintech #CryptoResearch #LightningNetwork #AIagents #DigitalFinance #CryptoInnovation #MachineEconomy #Web3Economy #Stablecoin #TechEconomy #GlobalFinance #CryptoFuture

Comments are closed.